 Pemerintah Minta Harga Susu Tidak Ikut Harga Dunia
(Kamis,04/03/2010:pkl.08.00 wib)JAKNEWS.COM--Untuk menjaga keseimbangan harga beli susu di tingkat peternak sapi perah, pemerintah berharap pihak industri tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi harga susu dunia dalam penentuan harga beli susu lokal. Saat ini, industri pengolahan susu masih mengacu pada fluktuasi harga susu di pasar dunia untuk menentukan harga beli di tingkat peternak.
Apabila harga susu di pasar dunia sedang naik, industri pengolahan susu (IPS) akan berebut mencari susu segar lokal sehingga peternak menikmati hasilnya. Akan tetapi, saat harga susu dunia sedang jatuh, IPS akan memilih susu impor sehingga terjadi kelebihan produksi susu segar lokal.
Menteri Perindustrian MS Hidayat berharap, IPS menjaga margin kepada peternak. ”Apabila memungkinkan, jangan 100 persen mengikuti flutuasi pasar,” katanya di sela peresmian perluasan pabrik Nestle di Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Arshad Chaudhry mengatakan, dalam memutuskan harga memang mempertimbangan fluktuasi. ”Namun, kami berusaha menyeimbangkan sehingga pasti ada margin untuk peternak,” katanya.
Selain harga susu di pasar dunia, penetapan harga susu juga ditentukan oleh kualitas susu segar. Harga susu dibuat berdasarkan kandungan jumlah bakteri (total plate count/TPC). ”Harga susu terbaik diberikan untuk susu yang kandungan bakteri di bawah satu juta TPC,” kata Pariatmoko, Section Head Dairy Development Nestle.
Saat ini, harga susu tertinggi yang diterima peternak sekitar Rp 3.200 per liter. Setiap hari, satu sapi mampu menghasilkan 10-12 liter susu. Di Jawa Timur, ekonomi susu sapi menghidupi 29.800 peternak, tidak termasuk keluarganya, yang terkonsentrasi di Kabupaten Malang, lalu Pasuruan, Kediri, dan Blitar.
nKCM/JAK11

|