 Jakarta Terancam Krisis Elpiji 18 Hari
(Minggu,11/05/2008:pkl.08.00 wib)JAKNEWS.COM---Sejak hari Jumat (9/5) pagi, produksi liquid petroleum gas atau LPG di Unit Pengolahan IV Balongan berhenti karena reaktor residue catalic cracking sedang dalam perbaikan. Perbaikan itu memakan waktu 18 hari sehingga selama 2,5 minggu tidak akan ada pasokan LPG dari kilang Balongan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jawa Barat dan Jakarta.
Kepala Humas UP VI Balongan Daryanto menjelaskan, Sabtu (10 /5), perbaikan unit reaktor RCC selama 18 hari merupakan perbaikan terjadwal. Perbaikan reaktor unit yang berfungsi memecah bahan baku hidrokarbon itu menyebabkan produksi elpiji dan propylene (bahan baku serat sistetis poliester) terhenti.
"Namun, perbaikan ini bukan karena alat tiba-tiba rusak dan berhenti, tetapi karena sudah dijadwal mulai dari shut down, perbaikan, sampai star-up. Karena perbaikan ini sudah terjadwal, masyarakat tidak perlu khawatir," kata Daryanto, menanggapi situasi saat ini yang mudah menyebabkan masyarakat panik.
Akibatnya, produksi 1.200 ton elpiji per hari dan 950 ton propylene per hari di UP VI Balongan akan berhenti. Padahal, sekitar 350 ton elpiji per hari dan 650 ton elpiji per hari dari Balongan didistribusikan ke wilayah Jabar dan Jakarta.
Selama 2,5 minggu ini, tidak ada satu ton pun elpiji yang diproduksi. Oleh sebab itu, dimungkinkan selama beberapa hari ke depan, terjadi gangguan penyediaan elpiji di Jabar dan Jakarta.
Daryanto menambahkan, produksi gas akan normal kembali pada 28 Mei 2008, dan pasokan akan kembali lancar seperti sebelumnya. Adapun produksi bahan bakar minyak, yaitu premium sebanyak 8.000 ton per hari, pertamax 900 ton per hari, dan petramax plus sebanyak 170 ton per hari, tidak terganggu meski ada perbaikan RCC.
Saat ini, produksi LPG di kilang Balongan adalah 12,5 persen dari produksi elpiji nasional di lima kilang yang memproduksi elpiji. Namun, produksi elpiji di Balongan pengaruhnya paling besar karena memasok kebutuhan konsumen di Jakarta dan Jabar.
nkcm/JAK11

|